Jumat, 15 Juni 2012

Anak Durhaka


Sebelum fajar menerangi bumi yang gelap di pagi hari, Bu Ani sudah terbangun dari tidur lelapnya untuk salat subuh dan menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Ibu Ani hanya tinggal di gubuk yang tak layak huni, namun apalah daya Ia dan keluarganya tak bisa tinggal di tempat yang lebih layak karena masalah keuangan.
Suami Bu Ani meninggalkan istri dan anak-anaknya untuk pergi merantau ke Jakarta dan memilih untuk menikah lagi dengan wanita lain. Profesi Bu Ani hanya sebagai pencari ikan di sungai. Ia memiliki 2 anak, yang paling tua baru mendapatkan pekerjaan entah sebagai apa, karena dia tidak pernah memberi tahu Ibu nya soal pekerjaannya itu.
Yang paling kecil benama Dodi, Ia masih sekolah kelas 5 SD. ”Ibu…!!! Masa makan pagi ini hanya makan nasi pakai ikan yang tadi malam sih ?” teriak Siti kepada Ibunya yang sedang mencuci baju diluar rumah. “Ada apa nak? Janganlah kamu berteriak seperti tadi” ucap Bu Ani. “Gimana enggak teriak-teriak? Masa makan pagi ini cuma beginian doang sih?” kata Siti dengan geram. “Ya mau gimana lagi? Kan Ibu hanya bekerja sebagai pencari ikan disungai” sahut Bu Ani dengan nada lemas.
Siti langsung mandi untuk bersiap bekerja tanpa sarapan dahulu. Dodi yang dari tadi melihan kakak nya marah-marah saja kemudian makan pagi lalu bersiap ke sekolah. “Siti kamu tidak sarapan dulu nak?” kata Bu Ani. Putri sulungnya itu tidak menjawab perkataan Ibu nya sendiri, malah langsung pergi tanpa pamit dahulu. “Bu..? Dodi pergi ke sekolah dulu ya, Assalamualaikum” kata Dodi sambil mencium tangan Ibunya. “Walaikumssalam”.
Waktu pun berjalan dengan sendirinya, sampai malam pun menyebarkan virusnya agar semua orang kembali menuju rumah mereka masing-masing. Namun si Siti belum pulang juga dari pekerjaannya tersebut. Sampai akhirnya Bu Ani dengan warga yang ikut panik karena si Siti belum pulang juga ikut mencari. Tetapi hingga waktu menunjukkan pukul 11 malam, Siti belum ketemu juga. Pencarian pun terhenti setelah ada seorang warga yang berkata “Mungkin Siti lagi nginap di rumah temannya kali Bu Ani”. Bu Ani menyetujui perktaan seorang warga tersebut agar tidak merepotkan warga.
Terbangun dari tidur karena sudah waktunya salat subuh, Bu Ani bergegas untuk salat subuh. Tetapi ketika ingin salat ada orang yang mengetuk pintu gubuk Bu Ani itu. Terkejutlah Bu Ani ketika melihat bahwa yang mengetuk pintu itu adalah Siti yang baru pulang kerja.
“Astagfhirullah, Siti? Kamu darimana saja? Ibu khawatir mamikirkan kamu”. “Iya iya bu, Siti ngantuk mau tidur dulu ya” ucap Siti sambil menuju kamar. “Ya Allah.. apa salah saya? Kenapa anak saya bisa berperilaku seperti ini” ucap Bu Ani dalam hati kecilnya sambil menangis.
Ketika siang menunjukkan panasnya matahari, Siti baru terbangun dari tidrnya. Sehabis itu dia menuju kamar mandi untuk mandi setelah itu makan siang. Bu Ani memanggil anaknya itu agar menceritakan tentang tadi malam kenapa dia pulang di saat subuh. Siti menjawab pertanyaan Ibunya dengan berbohong.
Kejadian kalau Siti pulang saat subuh bahkan sampai pagi hari menjadi kebiasaan bagi Siti. Sampai akhirnya Siti pun jatuh sakit. Bu Ani dengan setia menjaga anaknya yang sedang sakit itu. “Siti? Mengapa kamu menangis?”.”Maafkan Siti bu, maafkan Siti” “Memang kamu punya salah apa? Sampai kamu meminta maaf kepada Ibu?”.
Siti pun menceritakan bahwa mengapa Ia sakit, ternyata dia terkena penyakit HIV, dan Siti menceritakan kalau perkerjaannya selama ini itu menjadi seorang PSK.
Bu Ani pun kaget dengan pengakuan ankanya itu. Pengakuan Siti tersebut membuat Bu Ani tediam tanpa berkata-kata sedikit pun. Sampai akhirnya Siti mendapati penyakit yang semakin parah hingga akhirnya Ia pun meninggal. Sejak saat itu Bu Ani pun tidak pernah terlihat lagi setelah kepergian putri sulungnya. Sementara Dodi diasuh oleh tetangganya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar